

people said, follow your passion but then reality get you and said, seriously?
Ngga semua orang itu beruntung (atau mau berusaha lebih keras?) bisa (pengorbanan yang ngga sedikit) untuk menjadi apa yang dia mau. Pengen kita jadi pilot, tapi ngga ada biaya, kata orang kalau mau usaha pasti bisa, tapi kalo realitas berkata lain? gampang orang bilang cari beasiswa lah, ikut kerja sampingan lah, usaha ini lah itu lah. Jalan mencapai sukses itu ga gampang, makanya yang namanya Soekarno cuma ada satu. pengorbanan buat kesana juga ga main main. Seringnya kita harus ngorbanin yang ngga kita sangka, umur, keluarga, temen bahkan kadang harga diri.
Orang sukses, itu jarang dilihat prosesnya dulu, susahnya mereka, jatuh bangunnya mereka, pengorbanan mereka, dan nyala api mereka yang sering hampir padam tapi ngga pernah mati. Sampai akhirnya mereka jadi, tapi kalo orang liat pasti mereka bilang, ya itu kan si A, duitnya banyak, ortunya pejabat, si B saudaranya d, si C anaknya si E. Dan selalu begitu, kalo sukses ya emang garis keturunan sukses, kalo gagal ya emang garis keturunan gagal. JArang ada yang berfikir kalo itu ya usaha.
Cuma kadang (atau seringnya) kenyataan itu berkata lain, ada yang bilang manusia Indonesia itu pintar, cerdas, dan kreatif tapi karena (lagi lagi) faktor ekonomi, jadinya mereka lebih memilih uang daripada passion. salah?
Mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi, perut perut yang meminta makan, kelaparan. Apa iya kita lebih memilih passion daripada keluarga sendiri? terus mengejar dan mengorbankan apa yang kita punya?. Mungkin itu sebabnya orang mapan lebih gampang buat ngejar passion, karena yang dikorbaninnya mungkin ga sebanyak sama yang orang biasa, dan mereka bisa fokus. Biar gitu banyak juga orang yang dari bawah terus jadi sukses, tapi ya itu, satu diantara seribu dan perjuangan mereka, itu selalu lebih berat dari semua orang yang ada.
Terus gimana? pengennya sih ngejar passion tapi realitas juga ngga mungkin diabaikan. Terus gimana? bingung, kayaknya seneng gitu kalo ngeliat orang bisa, tapi pengen ikutan juga, pengen ikutan bisa tapi entah kenapa, realitas itu sangat enggan untuk pergi

entah kenapa suka bingung sama diri sendiri, pengen itu, pas dapet malah ga sreg. pas ada satu yang dimau banget kok kayaknya usaha buat dapet tuh susaaaaahhh banget, sekalianya niat mepet waktu, dan hasilnya jauh dari maksimal.
entar kalo cerita ada yang bilang, lah lo masih enak, gue bla bla bla, tapi ada juga yang bilang, liat itu kan keatas bukan kebawah
ya bener juga sih, satu satunya cara tuh ya berubah. Tapi itu susaaahhh banget, butuh motivasi dari luar lah, pengen ini lah, itu lah ujung ujungnya ngeluh sendiri. repot hidup
kalo ada denger cerita orang yang bener bener hidup susah dan kerja dari nol itu rasanya kayak, ditampar dan ditabok berulang ulang. mereka bisa, seharusnya gue lebih bisa. seharusnya.
dan disaat bersemangat tiba tiba aja dunia rasanya berkomrpomi dengan kamu, membangun semangat dari yang dasar dan berbisik, sulit itu awal dari sukses, jadi kalo udah dapet susah, ya nasib, kamu mau berhasil atau cuma ngimpi?

Sepertinya semua orang punya momen itu, satu momen yang membuat kita tertawa, tersipu malu, tersenyum bodoh atau hanya sekadar ingin mengingat saja.
Satu momen itu
Dimana ada banyak rasa di dalamnya, dimana yang teringat hanyalah pada saat itu, detik itu segalanya terasa pas dan waktu bahkan berjalan lambat, membiarkan kita menikmati setiap detik yang berjalan.
Satu momen itu
Tidak akan pernah kembali atau terulang dengan rasa yang sama. Jalan masih panjang namun semuanya sudah berubah, menjadi berliku dan tidak sama lagi. Tidak lagi kita temukan jalan untuk kembali, bahkan untuk menikmati satu momen itu, kita hanya bisa mengingat dan bernostalgia.
Satu momen itu
Hanya teringat masa dan rasa bahagia pada waktu itu, bukan maksud ingin kembali atau mengubah jalan yang sudah diambil. Hanya ingin menikmati saat waktu itu ada, saat dulu masih tak ada rasa, tak ada kata yang perlu diucap, dan diam menjadi nada.
Waktu itu
hanya ada ada satu waktu itu juga rasa itu, kembali mengingat dan tersenyum tak ada harapan atau keinginan, hanya ingin mengenang satu momen itu

i shouldn’t say it million times
just once but you will understand
and you will forgive, maybe
i really meant it
and i really sorry
i’m sorry

adil,
kata siapa?
merah,
kata siapa?
bijaksana,
kata siapa?
cantik,
kata siapa?
itu aku

kenapa?
kamu selalu bertanya
andai aku bisa menjawab
kenapa?
abu abu kataku
dan kau pun menangis
