"Life is a game, we need strategy if we want to win but trying now doesn’t mean you winning right now sometimes you have to wait even if it took years"
It’s happen to all of us

It’s happen to all of us

(via amorfedestino)

Jauh

Kalau kamu membuka setiap pintu belum tentu mereka menyambutmu

Kalau memang terkunci cobalah sedikit memaksa

Tapi kamu tau resikonya

Kamu selalu berada di dua jalan, tapi kamu selalu mengarah ke kanan

Padahal kamu tanpa sadar berlari ke kiri

Saat tersesat kamu selalu marah

Lalu melempar pada siapa/apa saja yang ada disana

Sekarang kamu entah ada dimana

Peta yang kamu pegang tidak pernah kamu lepas

Tapi

Dilihat pun tidak

Semua bertanya, mau mu apa?

Kamu pun balas berteriak,

TIDAK TAHU!!

Lalu marah-marah membanting banting semua waktu

Menghancurkan setiap kesempatan

SALAHMU ! SALAHMU ! SALAHKU !

Terus saja begitu

Kamu tau kamu sakit, tau kalo letih

Tapi diam-diam kamu menikmati

Tersakiti tapi menikmati

Jangan diam pura-pura tak tau, aku tau kalau kamu mengangguk

Tags: a poem maybe

afraid?

Its raining out there and here

Bangun siang dan menatap langit-langit kamar sambil kebingungan menjadi kebiasaan yang menyakitkan.

Aku rindu bangun pagi tanpa memikirkan apapun. Meloncat dari kasur karena telat shalat subuh atau tidur lagi karena merasa hari masih panjang.

I wish I could stay in the past forever, being a kid without worried about the world, playing Barbie all the time  and watching cartoons every day.

Namun waktu berjalan, tak mau tahu, menuntun pada batas-batas tinggi yang tak mau kompromi. Seringkali aku hanya mondar mandir pada batas-batas waktu sambil bertanya-tanya bagaimana melewatinya.

Awalku adalah bertanya, lalu aku menggerutu dan mengeluh pada setiap orang yang lewat tanpa menyadari bahwa mereka bolak-balik melewati batas dengan mudah, seperti angin yang berhembus pelan, tak terlihat namun terasa, bergerak tanpa disadari, maju tanpa melihat kebelakang.

Sekarang aku bertanya tanya aku dimana, tersesat didalam kepalaku sendiri, kebingungan membaca peta (aku tak pernah bisa membaca peta). Mereka memberiku petunjuk arah yang tak bisa kubaca, aku gusar, dan mencampakannya sambil menangis.

APA YANG KALIAN INGINKAN DARIKU????!!!!!!

Aku frustasi.

Aku menutup kepalaku dengan bantal sambil menahan air mata yang mulai ingin bebas .

Bebas? Mereka bilang aku bebas, dalam sangkar yang penuh dengan rantai, mengikat setiap bagianku yang ingin berlari.

Semua tak membantu, semua tak ingin membantu. Lama-lama aku menjadi gila.

Aku berusaha melihat apa yang mereka berikan untukku, seringkali aku menolak menatap tubuh penuh luka dan berkonsentrasi pada wajah penuh cahaya,

Gagal untuk melihat jantung yang hancur, hati yang robek, limpa yang bocor, dan tubuh yang robek.

Haya cahaya yang aku berusaha lihat tanpa mengakui bahwa semua yang hancur menyusun cahay yang terang, semakin rusak semakin kuat cahayanya. Semakin sedikit lukanya semakin redup cahanya

Aku gagal melihat itu semua.

Aku gagal melihat diriku sendiri, terbaring di kasur yang reyot dan bertanya kapan rubuh.

Munafik, itu kamu (Aku).

Aku melihat luka, aku melihat duka, namun aku berpaling dari senyum.

Aku berteman dengan takut dan akrab dengan kesepian, saat berani menyapa. Aku lari.

Aku memuja menangis dalam diam, menikmati dunia yang runtuh, saat bahagia muncul aku justru bersembunyi.

Pelam-pelan derita menjadi candu dan luka adalah bahagia yang nyata.

Mengeluh adalah caraku bercerita hingga aku lupa bagaimana rasanya syukur

Tawa bahagia aku lempar , jauh kebelakang. Munafik menjadi karibku.

Kutelan sendiri semua kata-kata hinaku hingga pujian adalah cacian.

Seringkali aku menyesal namun derita adalah candu dan candu menjadi hidup.

Aku tak ingin ditelan gelap namun aku tak mau melepas genggamannya.

Aku ingin bersama  tulus namun diam-diam aku menamparnya.

Munafik, itu namaku. 

Tags: poem

wajah-wajah

Kamu tau? Ada satu, dua rasa yang ingin kusimpan sendiri.

Menyimpan. Itu sulitku hingga kucerita padamu.

Keluhku katamu, tapi kamu seolah mengerti.

Dustamu, berpura pura berduka untukku.

Kasihan katamu, tawamu terselip dalam gema.

Inginku, kau ada untukku. Selalu. Lalu kau sembunyi dengan dustamu.

Baik-baik saja katamu, lalu tawamu menusukku

Berapa. Tanyaku? Kau pura-pura tidak tau.

Ingin kulempar topengmu

Tapi wajah rusakmu menarik minatku

Iya. Rusak wajahmu, tapi bahkan cermin menolak untuk berkata.

Kasihan.

 

Tags: poem

belajar dari stand up komedi

Mesake Bangsaku Jogja

Tanggal 2 kemaren temen-temen gue ngajakin buat nonton Mesake Bangsaku nya Panji. Awalnya gue kayak, hmm stand up komedi? Jujur gue belum pernah nonton stand up komedi sebelumnya dan gue pikir ini cuma acara lucu-lucuan doang. Awalnya.

Ternyata setelah nonton gue jadi mikir banyak, saking banyaknya kepala gue serasa mau pecah rasanya. Awal pembukaan kita masih ketawa-ketawa santai, pas bagiannya Panji kita emang ketawa lebih kenceng, tapi gue berasa lagi ngetawain diri gue sendiri. Malam itu ada dua tema kecil yang nyangkut dikepala gue, masalah minoritas dan pendidikan. Ternyata perempuan yang menjadi jumlah paling banyak (menurut gue selama pengamatn gue sekolah hampir 16 tahun) ga menjamin bakalan jadi mayoritas kita juga justru malah menjadi minoritas. Panji sendiri ngasih contoh soal hak-hak perempuan, waktu itu dia ngasih contoh soal pemerkosaan dimana biasanya yang paling disalahin adalah perempuan. Siapa suruh perempuannya pake baju pendek? Siapa suruh cewenya ga tertutup? Padahal jelas-jelas yang melakukan pemerkosaan itu laki-laki.

Selama dia ngasih contoh kita ketawa-ketawa aja, tapi mikir juga, ya bener juga sih, selama ini kita sebagai perempuan gampang dapet dilecehkan, sekedar contoh kecil kayak disiul-siulin atau dicolek-colek laki-laki ga jelas di angkutan umum atau dijalan. Itu sebenernya udah masuk kategori pelecehan seksual dan kita bisa ngelaporin itu ke kantor polisi. Kenyataanya? Jarang banget ada perempuan yang berani negur apalagi ke kantor polisi. Satu, malu iya, dua kadang hal itu dianggap biasa dan angin lalu dan ngga dianggap penting. Ini semakin kelihatan jelas pas beberapa waktu yang lalu diusulkan ada tes keperawanan. Lagi-lagi perempuan yang kena. Kenapa harus perempuan? Kenapa juga harus ada tes kayak begituan, bukankah selama ini yang salah itu bukan individu? Tapi lebih kepada sistem bagaimana kita dididik dan dibesarkan?

Ini adalah tema kedua Panji yang nempel di kepala gue. Masalah pendidikan. Pendidikan. Gue tau ada yang salah dengan sistem pendidikan  di Indonesia tapi gue sendiri ga sadar, sampai detik saat gue lulus kuliah dan magang di salah satu acara seni besar di Jogja. Sebelum nonton stand up Panji gue sempet ngobrol dengan temen deket yang sama-sama lulus tahun ini. Semenjak lulus dan magang gue baru sadar kalo gue punya banyak kekurangan yang ternyata bisa jadi sumber masalah saat di dunia kerja. Temen gue sendiri bilang bahwa kehidupan lo, mau ga mau akan berpengaruh dengan kehidupan orang lain, terutama di lingkungan di mana lo hidup. Jangan sampe lo hidup Cuma “numpang lewat doang” dan  ga berkesan apa-apa dalam hidup mereka., dalam arti lo harusnya bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

Pas malemnya Panji ngebahas soal orang Indonesia yang terlalu dibesarkan dengan cara menurut. Terlalu nurut malahan. Gue berasa ditampar pas dia ngomong begitu, Panji sendiri bilang kalo orang Indonesia terlalu menurut dan takluk dengan sistem yang ada. Kalau kita berbeda pendapat atau protes kita takut untuk bilang, karena kita ga mau kena masalah. Sampai-sampai saat masalah itu ada di depan mata kita terlalu takut untuk bilang. Kita jadi terbiasa untuk menerima dan menelan kesalahan-kesalahan yang kadang ga perlu terjadi atau sepenuhnya bukan salah kita. Kita terima-terima aja pas dimarahin atau disalahin, padahal hal itu ga perlu terjadi. Panji ngasih contoh TOA masjid di rumahnya, lucu kedengarannya, dan gue ketawa. Tapi di kepala gue sendiri gue ngerasa kayak ditampar pake TOA nya Panji. Karena itu adalah gue sendiri.

Sejak gue magang gue jadi belajar banyak hal dan bener-bener mula dari nol. Gue bersyukur karena mba-mba atasan gue baik, padahal gue adalah orang Indonesia penurut versi Panji. Selama magang jadi Public Relation gue baru sadar bahkan untuk hal-hal kecil aja gue ga bisa. Contoh dalam hal Mou. Selalu dan selalu setelah membuat surat Mou, puny gue selalu  di cek ulang sama mba atasan gue, padahal itu tinggal copy paste dan mengganti beberapa poin sesuai dengan perjanjian yang sudah dilakukan. Tapi gue selalu salah padahal gue ngikuti sesuai dengan yang ada sebelumnya. Gue pun baru tau kalau sebenernya beberapa tulisan dan kalimat dari Mou itu memang dari awal salah, tapi karena gue ngikutin yang dari awal jadi gue ga ngerasa salah. Meskipun waktu gue baca gue ngerasa, kok kayaknya kalimatnya aga aneh ya? Tapi gue hanya menganggap angin lalu dan tanpa sadar menelan masalah itu sendiri. Padahal kalo emang gue ngeh dari awal kenapa juga ga langsung kroscek, kenapa juga ga nanya?

Ini adalah masalah kedua, kita sebagai orang Indonesia ga biasa diajarkan bertanya atau protes, kita seringkali dituntut untuk selalu nurut dan nurut. Panji sendiri sangat menekankan hal ini, menurut dia seringkali orang Indonesa merasa ga nyaman atau kesel dengan keadaan yang ada tapi memilih diam. Dia, yang dari awal emang ngerasa paling banyak omong memutuskan untuk memulai dari dirinya sendiri dan hal-hal kecil dan sehari-hari. Awalnya gue mikir yaa dia sih udah biasa, tapi gue mikir lagi justru karena dia mejadikan itu KEBIASAAN maka itu menjadi BIASA. 

Pulang dari stand up gue jadi ngaca sama diri gue sendiri, apakah gue salah satu dari produk nurut nya Indonesia? bisa jadi. Hidup kita ga berkutat melulu di lingkungan sekolah dan di sekolah Indonesia kita dituntut untuk melakukan sesuatu dengan baik dan menjadi terbaik dalam bidang akademis tanpa diberikan kesadaran untuk melakukan yang terbaik dalam lingkungan sosial. Kenyataanya hidup ga selalu butuh pendidikan akademis, waktu magang gue berusaha mengerjakan segalanya dengan baik dan sempurna sebagaimana gue di sekolah, pada kenyataanya selalu ada yang kurang. Kesadaran gue untuk bertanya ditelan dengan ego untuk melakukan sesuatu dengan sempurna. Temen gue yang barengan magang, meskipun kerja dengan santai selalu bisa menghandle sesuatu dengan santai dan tepat. Kalau ada sesuatu yang mengganjal seperti apakah setiap peliput dalam acara itu harus pake id atau engga (dia kepikiran karena ada salah seorang peliput yang bertanya)  dia memutuskan untuk BERTANYA pada mba atasan gue. Sementara gue yang justru menghandle media cetak lebih banyak justru ga kepikiran sama sekali. Padahal harusnya gue sadar dengan hal-hal kecil semacam itu, tapi gue malah ga tau. Gue, kalo ada yang salah atau ga sesuai pasti panik dan stress dan jadi lebay mampus, sementara temen gue dengan masalah yang lebih berat (menurut gue) justru lebih santai. Karena dia terbiasa untuk tidak menjadi yang terbaik tapi melakukan sesuatu dengan baik.

Magang, membuat gue semakin paham jurang lebar antara kehidupan akademis dengan sosial, yang ironisnya, keduanya seharusnya saling berhubungan. Sekolah harusnya mengajarkan kita bagaimana untuk tau dan mencari tau dan ga berkembang di bidang akademis aja, karena pada kenyataanya setiap orang punya kemampuan yang berbeda.  16 tahun gue sekolah dan saat lulus gue baru sadar, gue sendiri ga tau minat dan bakat gue seperti apa. Ini membuat gue kesulitan dalam memilih pekerjaan udah mana gue kuliah di fakultas yang ga semua orang ngerti. Buat orang umum hidup gue udah berakhir (mungkin). Tapi nonton stand up nya Panji membuat berpikir banyak dan pelan-pelan menata kehidupan gue sendiri. Secara ga langsung dia kayak pengen bilang bahwa dalam memilih sesuatu lo harusnya ga asal milih dan berfikir matang-matang atas keputusan yang akan lo ambil. PAHAMI RESIKONYA DAN BERTANGGUNGJAWABLAH DENGAN KEPUTUSAN ITU. Kita memang ngga diajarkan untuk bertanya dan berfikir matang-matang padahal itu penting buat kehidupan kita sendiri. Saat kita bisa melakukan itu otomatis orang disekitar kita akan terkena dampaknya juga. Dengan itu pelan-pelan kita juga bisa mengubah sudut pandang orang lain.

Panji sendiri membuktikan hal itu, bahwa dengan stand up dia justru bisa menyalurkan ide dan apa yang dia pahami soal manusia Indonesia secara keseluruhan, secara ga langsung. Semacam Galileo yang menggunakan satire saat banyak ilmuwan semasanya yang menolak pemikirannya dalam bidang fisika.  kita memang tertawa keras sampai mengeluarkan air mata tapi kita jadi tau dan belajar banyak hal. Sadar atau ga sadar kita jadi mikir, owh iya ya, bener juga sih, eh itu sih gue banget !! dll. Acara semacam ini gue rasa sebenernya perlu terutama untuk kamu muda yang menjadi generasi penerus dan butuh “pembelajaran” di luar bidang akademis dan Panji melakukannya dengan stand up komedi.  

Tags: me

pamrih lo?

Ikhlas atau engga? Entah kenapa tiba tiba pikiran ini tiba tiba nongol di pikiran gue. Asalnya gue bengong aja dan tiba tiba jadi keinget curhatan gue sama temen. Sebenrnya sih gue yang awalnya curhat dan jadinya malah dongkol sendiri, ga tau kenapa tiba tiba obrolan kita waktu itu keinget waktu gue lagi bengong. Ceritanya begini, waktu itu gue dan temen gue si April lagi ngobrolin soal skripsi dan nyambung kemana mana termasuk ke kehidupan pribadi masing masing. Waktu itu gue lagi kesel sama seseorang sebut aja Nima. Si Nima ini sering banget minta bantuan sama gue padahal dia sendiri ga terlalu akrab sama gue, dia juga sering bikin kesel tapi karena atas suatu dasar gue mau aja nolongin dia. Nah setelah gue tolongin, si Nima ini berulah lagi sama gue dan bikin gue sakit ati. Pas lagi curhat sempet terucap “ Kenapa sih Nima jahat banget sama gue padahal kan udah gue bantuin malah dibales air tuba begini”. Dengan kalem temen gue menjawab “ itu artinya lo ga ikhlas”. Dengan gue yang lagi berapi api dan merasa tersakiti (ebuset dah) jelas gue langsung naik pitam. Jadi kalo kita berbuat sesuatu dan berharap sedikit pengertian dari orang lain itu salah? Terus ngapain kita berbuat baik sama orang lain? Apa dengan begitu orang dengan bebas berlaku seenaknya dengan orang lain hanya dengan dasar ikhlas?

Dengan dasar ga pengen berantem gue memutuskan untuk ga melanjutkan pembicaraan itu. Memang gue lagi emosi saat itu dan jawaban temen gue itu cukup membuat gue semakin “panas”. Tapi pertanyaan itu terus menganggu, kalo kita melakukan sesuatu dan mengharapkan pengertian dari orang lain itu termasuk pamrih?

Pertanyaan ini pun gue sebar ke beberapa orang, isengnya gue pengen tau menurut mereka gimana sih? Jawaban yang gue dapetin pun bermacem macem, ada yang ngeliat dari segi agama, sosial, dan individu. Pertanyaan inti gue adalah kalo awalnya kita melakukan sesuatu dengan ikhlas terus disakiti dan merasa sakit hati, itu termasuknya apa? Pamrih atau ngga ikhlas? Untuk beberapa orang memang secara murni disaat kita melakukan sesuatu untuk orang lain maka seharusnya ga ada perasaan ingin dibalas sekecil apapun. Permasalahannya adalah, apakah semua balasan itu harus berupa barang atau “sesuatu” yang ada wujudnya? Bagaimana dengan sekedar jangan menyakiti hati kita atau ucapan terima kasih? Bukanakan kita sebagai mahluk sosial dan individu wajar untuk berharap seperti itu. Atau setidaknya lah, jangan lah berulah aneh dengan kita, kalau hanya dengan berharap seperti itu kita dianggap pamrih lalu kenapa harus berbuat baik sama orang lain? Toh selama kita hidup ga semua orang yang kita baikin bakal berbalik baik buat kita kan?

Jawaban yang paling bijaksana datang lewat sms. “susah buat kita untuk berbuat ikhlas karena sebagaimana manusia kita biasanya akan mengharapkan balasan minimal ucapan terimakasih makanya usaha untuk menolong tanpa rasa pamrih itu pahalanya besar dalam agama”. Kalo dipikir pikir iya juga, banyak ayat ayat suci yang meminta kita untuk saling tolong menolong dengan sesama manusia, barang siapa yang dapat melakukannya tanpa rasa pamrih akan memperoleh imbalan yang sebesar besarnya. Jelas imbalannya besar, ngejalaninnya pun ga semudah yang kita kira. Ga semua orang bisa, bahkan setengah dari penduduk bumi pun rasanya tidak (lebay).

Harapan untuk dihargai, dihormati, dan tidak disakiti selalu terselip dalam setiap pertolongan dengan begitu setiap perbuatan baik/tolong menolong akan terasa pamrih. Tapi ada juga teman yang mengatakan bahwa perasaan itu pun tidak sepenuhnya salah, kita sebagai manusia individu yang akan selalu mengharapkan hal yang sederhana namun bila keinginan itu tidak tercapai, kita pun akan menjadi pamrih karena merasa tidak mendapat balasan yang seharusnya bisa kita terima. Mungkin sebagai manusia individu hal ini ga bisa dianggap sepenuhnya salah bukankah kita sebagai manusia menginginkan untuk dihargai, dihormati, dan dicintai? Salahkah anak manusia bila mengharapkan hal yang paling dasar?

Hanya karena kita merasa sakit hati karena tindakan dia yang salah, haruskah itu juga menodai kebaikan yang dulu pernah kita lakukan? Salahkah kita bila ingin merasa dihargai?

Pelik, begitu kata teman. Ya memang dan cukup bikin sakit kepala. Semuanya pun kembali pada diri sendiri, kamu ingin melihatnya dari segi yang mana? Kalo agama jelas sudah salah karena agama menginginkan kita benar benar rela berkorban (tanpa adanya rasa pamrih sedikit pun)  sementara sosial kurang lebih sama, kita selalu diharapkan untuk memberi tanpa mengharapkan kembail bukan? Buktinya saya dikomentari dengan kata kata mengharap pamrih. Namun secara individu saya tetap meyakini bahwa mengharap orang lain menghargai perasaan kita dalah hal yang wajar dihargai dan dihormati siapapun ini diperlakukan seperti ini. bukan harta dan pujian yang diminta hanya sekedar “tolong hargai saya” entah kenapa menjadi sulit.

Gue pun  bingung mungkin memang benar mengharap pamrih, salahkah itu? Emang aga emosi waktu dibilang ga ikhlas, wajar ga? Karena yang gue rasa adalah gue udah berusaha semaksimal mungkin dan melakukan semua yang gue bisa,mengeluarkan semua kemampuan gue dan setelah itu gue disakiti dan dianggap pamrih…..

Gue ngerasa itu semua ga adil dan menyebalkan, kenapa kita harus berusaha sekuat tenaga sementara sedikit rasa kecewa menghancurkan segalanya. Gue sempet bertanya tanya apakah yang gue lakukan selama ini itu dianggap pamrih dan ga ikhlas, apakah semua usaha gue itu sia sia? Buat apa kita berbuat baik kalo selalu dianggap pamrih?

Dan satu chat whatssapp pun masuk, salah satu temen gue yang menurut gue paling punya jawaban simple dari semua pertanyaan njelimet gue, “bukan urusan gue buat ngejudge”. Gue bertanya seruwet apapun, dia uma jawab “kalo nolong terus ngomel ya ngga ikhlas tapi abis itu nolongin lagi berarti lo tulus”

Satu kata yang ga  gue pikirin dari tadi, tulus. Kalo kita masih mau menolong bukankan itu artinya kita masih peduli, masih ada rasa ingin membantu, menolong. Bukankan itu sifat alamiah kita sebagai manusia? meskipun nantinya kita sakit hati, kesal dan  ngedumel tapi tangan kita akan terus terulur. Mungkin masuknya udah riba (nyebar kemana mana ini) tapi perasaan orang, siapa yang tau? Dengan awal yang tulus dan ending yang sakit hati akankan itu menghapus ketulusan yang sempat ada? agama memang memaparkan hukum hukum yang jelas. Tapi kita, manusia dengan berbagai keterbatasan dalam memahami makna. Akankah kita selalu dianggap pamrih?

Untuk ini dia hanya menjawab, “urusan Tuhan itu, bukan gue” dan mungkin dia memang benar. Manusia hanya berusaha, pamrih atau tidak, kita jelas ingin dihargai dan dihormati. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk belajar ikhlas dan berproses melepas pamrih. Jalannya ga semudah menulis ini, karena kenyataanya manusia terlalu rumit untuk dinilai manusia lain. Bagian penilaian toh sudah ada yang ngerjain, bagian kita (mungkin) berproses dan berusaha lebih baik.

Setelah dipikir pikir gue rasa April ga salah, mungkin dia ingin mengingatkan bahwa seharusnya gue  tidak boleh berharap banyak dari perbuatan baik gue buat Nima karena tidak semua manusia bisa mengerti arti pertolongan. Beberapa hanya mengerti diberi dan dikasihani namun tidak paham saling menghormati. Mungkin April hanya mengingatkan gue bahwa seharusnya gue ga ngungkit ngungkit apa yang udah gue kasih ke Nima dan bisa lebih bersabar. Seharusnya gue bisa menyerahkan hasilnya sepenuhnya ke Yang Maha Berkuasa, toh semua balasan ga harus dikasih disaat kita ingin kan? Baik atau buruk semua akan dibalas, yang penting kita usaha dan JANGAN NGELUH (mungkin maksud April lebih kesini, secara gue doyan ngeluh HAHAHAHA).