In My life by the beatles cover by the glee club

There are places I”ll remember

All my life though some have changed

Some forever not for better

Some have gone and some remain

All these places had their moments

With lovers and friends I still can recall

Some are dead and some are living

In my life I’ve loved them all

This is beatles song who covered by glee club. I remember they sang this song as say goodbye to glee club senior like Rachel, Finn, Santana, and Kurt. You know the farewell episode is very touching and I really love this one. It’s about farewell and friends and moments and everything you had in the moment. When I left Yogya I cried. Inside the train. I laughed and laughed at the station with my friends, enjoying everything I had for the last time. and when it’s over, it’s over. The old lady in front of me asking why I’m crying, I’m just smiling. After that my friends text me and told me about the post card inside the book they gave me. The post card is beautiful. With their handwriting and their pictures in the back. I can’t stop crying but I know this is not the end, the journey was begin.

They remind me as a human being. Imperfection. How live your life with honesty and simple things can make you happy, like food, traveling in the night, laugh at the stupid things, or unlucky things which happen to your life.

Friends is whom you comfortable with, doesn’t have to look good or speak good just someone who want to be with you with no reason.

It reminds me with the big bang theory, once my cousin told me if she had friends like them her days would not be same every day. And that just exactly what my life in almost four years. Despite the genius things my friends come from different background. we always debating about how politics affect our live like we want to kill each other than laugh at the same joke or embarrassing because one of them horn at loud at the motorcycle when seeing beautiful girls ( doesn’t care if she girl, or women, or a young mother, as long she is WOMAN) or talking non senses things (which the most).

I remember when my friend complaining about a thing over and over again ( until I remember every detail) or another one who always act like she want but they always be there, when I’m tired or just want to stop by and crying.

There are some people who doesn’t have things like this.  People who doesn’t have someone to cheer her/him up. Its not always have to friends you know. Family, lover, cousin, or everyone who always be there for you.

So im really glad with what I have. With family and friends who teaching me to have to glad every day. To every moment I have. Say I’m lucky but if simple things can make you happy that means you lucky. 

Tags: a bit story

"Life is a game, we need strategy if we want to win but trying now doesn’t mean you winning right now sometimes you have to wait even if it took years"
It’s happen to all of us

It’s happen to all of us

(via amorfedestino)

Jauh

Kalau kamu membuka setiap pintu belum tentu mereka menyambutmu

Kalau memang terkunci cobalah sedikit memaksa

Tapi kamu tau resikonya

Kamu selalu berada di dua jalan, tapi kamu selalu mengarah ke kanan

Padahal kamu tanpa sadar berlari ke kiri

Saat tersesat kamu selalu marah

Lalu melempar pada siapa/apa saja yang ada disana

Sekarang kamu entah ada dimana

Peta yang kamu pegang tidak pernah kamu lepas

Tapi

Dilihat pun tidak

Semua bertanya, mau mu apa?

Kamu pun balas berteriak,

TIDAK TAHU!!

Lalu marah-marah membanting banting semua waktu

Menghancurkan setiap kesempatan

SALAHMU ! SALAHMU ! SALAHKU !

Terus saja begitu

Kamu tau kamu sakit, tau kalo letih

Tapi diam-diam kamu menikmati

Tersakiti tapi menikmati

Jangan diam pura-pura tak tau, aku tau kalau kamu mengangguk

Tags: a poem maybe

afraid?

Its raining out there and here

Bangun siang dan menatap langit-langit kamar sambil kebingungan menjadi kebiasaan yang menyakitkan.

Aku rindu bangun pagi tanpa memikirkan apapun. Meloncat dari kasur karena telat shalat subuh atau tidur lagi karena merasa hari masih panjang.

I wish I could stay in the past forever, being a kid without worried about the world, playing Barbie all the time  and watching cartoons every day.

Namun waktu berjalan, tak mau tahu, menuntun pada batas-batas tinggi yang tak mau kompromi. Seringkali aku hanya mondar mandir pada batas-batas waktu sambil bertanya-tanya bagaimana melewatinya.

Awalku adalah bertanya, lalu aku menggerutu dan mengeluh pada setiap orang yang lewat tanpa menyadari bahwa mereka bolak-balik melewati batas dengan mudah, seperti angin yang berhembus pelan, tak terlihat namun terasa, bergerak tanpa disadari, maju tanpa melihat kebelakang.

Sekarang aku bertanya tanya aku dimana, tersesat didalam kepalaku sendiri, kebingungan membaca peta (aku tak pernah bisa membaca peta). Mereka memberiku petunjuk arah yang tak bisa kubaca, aku gusar, dan mencampakannya sambil menangis.

APA YANG KALIAN INGINKAN DARIKU????!!!!!!

Aku frustasi.

Aku menutup kepalaku dengan bantal sambil menahan air mata yang mulai ingin bebas .

Bebas? Mereka bilang aku bebas, dalam sangkar yang penuh dengan rantai, mengikat setiap bagianku yang ingin berlari.

Semua tak membantu, semua tak ingin membantu. Lama-lama aku menjadi gila.

Aku berusaha melihat apa yang mereka berikan untukku, seringkali aku menolak menatap tubuh penuh luka dan berkonsentrasi pada wajah penuh cahaya,

Gagal untuk melihat jantung yang hancur, hati yang robek, limpa yang bocor, dan tubuh yang robek.

Haya cahaya yang aku berusaha lihat tanpa mengakui bahwa semua yang hancur menyusun cahay yang terang, semakin rusak semakin kuat cahayanya. Semakin sedikit lukanya semakin redup cahanya

Aku gagal melihat itu semua.

Aku gagal melihat diriku sendiri, terbaring di kasur yang reyot dan bertanya kapan rubuh.

Munafik, itu kamu (Aku).

Aku melihat luka, aku melihat duka, namun aku berpaling dari senyum.

Aku berteman dengan takut dan akrab dengan kesepian, saat berani menyapa. Aku lari.

Aku memuja menangis dalam diam, menikmati dunia yang runtuh, saat bahagia muncul aku justru bersembunyi.

Pelam-pelan derita menjadi candu dan luka adalah bahagia yang nyata.

Mengeluh adalah caraku bercerita hingga aku lupa bagaimana rasanya syukur

Tawa bahagia aku lempar , jauh kebelakang. Munafik menjadi karibku.

Kutelan sendiri semua kata-kata hinaku hingga pujian adalah cacian.

Seringkali aku menyesal namun derita adalah candu dan candu menjadi hidup.

Aku tak ingin ditelan gelap namun aku tak mau melepas genggamannya.

Aku ingin bersama  tulus namun diam-diam aku menamparnya.

Munafik, itu namaku. 

Tags: poem

wajah-wajah

Kamu tau? Ada satu, dua rasa yang ingin kusimpan sendiri.

Menyimpan. Itu sulitku hingga kucerita padamu.

Keluhku katamu, tapi kamu seolah mengerti.

Dustamu, berpura pura berduka untukku.

Kasihan katamu, tawamu terselip dalam gema.

Inginku, kau ada untukku. Selalu. Lalu kau sembunyi dengan dustamu.

Baik-baik saja katamu, lalu tawamu menusukku

Berapa. Tanyaku? Kau pura-pura tidak tau.

Ingin kulempar topengmu

Tapi wajah rusakmu menarik minatku

Iya. Rusak wajahmu, tapi bahkan cermin menolak untuk berkata.

Kasihan.

 

Tags: poem

belajar dari stand up komedi

Mesake Bangsaku Jogja

Tanggal 2 kemaren temen-temen gue ngajakin buat nonton Mesake Bangsaku nya Panji. Awalnya gue kayak, hmm stand up komedi? Jujur gue belum pernah nonton stand up komedi sebelumnya dan gue pikir ini cuma acara lucu-lucuan doang. Awalnya.

Ternyata setelah nonton gue jadi mikir banyak, saking banyaknya kepala gue serasa mau pecah rasanya. Awal pembukaan kita masih ketawa-ketawa santai, pas bagiannya Panji kita emang ketawa lebih kenceng, tapi gue berasa lagi ngetawain diri gue sendiri. Malam itu ada dua tema kecil yang nyangkut dikepala gue, masalah minoritas dan pendidikan. Ternyata perempuan yang menjadi jumlah paling banyak (menurut gue selama pengamatn gue sekolah hampir 16 tahun) ga menjamin bakalan jadi mayoritas kita juga justru malah menjadi minoritas. Panji sendiri ngasih contoh soal hak-hak perempuan, waktu itu dia ngasih contoh soal pemerkosaan dimana biasanya yang paling disalahin adalah perempuan. Siapa suruh perempuannya pake baju pendek? Siapa suruh cewenya ga tertutup? Padahal jelas-jelas yang melakukan pemerkosaan itu laki-laki.

Selama dia ngasih contoh kita ketawa-ketawa aja, tapi mikir juga, ya bener juga sih, selama ini kita sebagai perempuan gampang dapet dilecehkan, sekedar contoh kecil kayak disiul-siulin atau dicolek-colek laki-laki ga jelas di angkutan umum atau dijalan. Itu sebenernya udah masuk kategori pelecehan seksual dan kita bisa ngelaporin itu ke kantor polisi. Kenyataanya? Jarang banget ada perempuan yang berani negur apalagi ke kantor polisi. Satu, malu iya, dua kadang hal itu dianggap biasa dan angin lalu dan ngga dianggap penting. Ini semakin kelihatan jelas pas beberapa waktu yang lalu diusulkan ada tes keperawanan. Lagi-lagi perempuan yang kena. Kenapa harus perempuan? Kenapa juga harus ada tes kayak begituan, bukankah selama ini yang salah itu bukan individu? Tapi lebih kepada sistem bagaimana kita dididik dan dibesarkan?

Ini adalah tema kedua Panji yang nempel di kepala gue. Masalah pendidikan. Pendidikan. Gue tau ada yang salah dengan sistem pendidikan  di Indonesia tapi gue sendiri ga sadar, sampai detik saat gue lulus kuliah dan magang di salah satu acara seni besar di Jogja. Sebelum nonton stand up Panji gue sempet ngobrol dengan temen deket yang sama-sama lulus tahun ini. Semenjak lulus dan magang gue baru sadar kalo gue punya banyak kekurangan yang ternyata bisa jadi sumber masalah saat di dunia kerja. Temen gue sendiri bilang bahwa kehidupan lo, mau ga mau akan berpengaruh dengan kehidupan orang lain, terutama di lingkungan di mana lo hidup. Jangan sampe lo hidup Cuma “numpang lewat doang” dan  ga berkesan apa-apa dalam hidup mereka., dalam arti lo harusnya bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

Pas malemnya Panji ngebahas soal orang Indonesia yang terlalu dibesarkan dengan cara menurut. Terlalu nurut malahan. Gue berasa ditampar pas dia ngomong begitu, Panji sendiri bilang kalo orang Indonesia terlalu menurut dan takluk dengan sistem yang ada. Kalau kita berbeda pendapat atau protes kita takut untuk bilang, karena kita ga mau kena masalah. Sampai-sampai saat masalah itu ada di depan mata kita terlalu takut untuk bilang. Kita jadi terbiasa untuk menerima dan menelan kesalahan-kesalahan yang kadang ga perlu terjadi atau sepenuhnya bukan salah kita. Kita terima-terima aja pas dimarahin atau disalahin, padahal hal itu ga perlu terjadi. Panji ngasih contoh TOA masjid di rumahnya, lucu kedengarannya, dan gue ketawa. Tapi di kepala gue sendiri gue ngerasa kayak ditampar pake TOA nya Panji. Karena itu adalah gue sendiri.

Sejak gue magang gue jadi belajar banyak hal dan bener-bener mula dari nol. Gue bersyukur karena mba-mba atasan gue baik, padahal gue adalah orang Indonesia penurut versi Panji. Selama magang jadi Public Relation gue baru sadar bahkan untuk hal-hal kecil aja gue ga bisa. Contoh dalam hal Mou. Selalu dan selalu setelah membuat surat Mou, puny gue selalu  di cek ulang sama mba atasan gue, padahal itu tinggal copy paste dan mengganti beberapa poin sesuai dengan perjanjian yang sudah dilakukan. Tapi gue selalu salah padahal gue ngikuti sesuai dengan yang ada sebelumnya. Gue pun baru tau kalau sebenernya beberapa tulisan dan kalimat dari Mou itu memang dari awal salah, tapi karena gue ngikutin yang dari awal jadi gue ga ngerasa salah. Meskipun waktu gue baca gue ngerasa, kok kayaknya kalimatnya aga aneh ya? Tapi gue hanya menganggap angin lalu dan tanpa sadar menelan masalah itu sendiri. Padahal kalo emang gue ngeh dari awal kenapa juga ga langsung kroscek, kenapa juga ga nanya?

Ini adalah masalah kedua, kita sebagai orang Indonesia ga biasa diajarkan bertanya atau protes, kita seringkali dituntut untuk selalu nurut dan nurut. Panji sendiri sangat menekankan hal ini, menurut dia seringkali orang Indonesa merasa ga nyaman atau kesel dengan keadaan yang ada tapi memilih diam. Dia, yang dari awal emang ngerasa paling banyak omong memutuskan untuk memulai dari dirinya sendiri dan hal-hal kecil dan sehari-hari. Awalnya gue mikir yaa dia sih udah biasa, tapi gue mikir lagi justru karena dia mejadikan itu KEBIASAAN maka itu menjadi BIASA. 

Pulang dari stand up gue jadi ngaca sama diri gue sendiri, apakah gue salah satu dari produk nurut nya Indonesia? bisa jadi. Hidup kita ga berkutat melulu di lingkungan sekolah dan di sekolah Indonesia kita dituntut untuk melakukan sesuatu dengan baik dan menjadi terbaik dalam bidang akademis tanpa diberikan kesadaran untuk melakukan yang terbaik dalam lingkungan sosial. Kenyataanya hidup ga selalu butuh pendidikan akademis, waktu magang gue berusaha mengerjakan segalanya dengan baik dan sempurna sebagaimana gue di sekolah, pada kenyataanya selalu ada yang kurang. Kesadaran gue untuk bertanya ditelan dengan ego untuk melakukan sesuatu dengan sempurna. Temen gue yang barengan magang, meskipun kerja dengan santai selalu bisa menghandle sesuatu dengan santai dan tepat. Kalau ada sesuatu yang mengganjal seperti apakah setiap peliput dalam acara itu harus pake id atau engga (dia kepikiran karena ada salah seorang peliput yang bertanya)  dia memutuskan untuk BERTANYA pada mba atasan gue. Sementara gue yang justru menghandle media cetak lebih banyak justru ga kepikiran sama sekali. Padahal harusnya gue sadar dengan hal-hal kecil semacam itu, tapi gue malah ga tau. Gue, kalo ada yang salah atau ga sesuai pasti panik dan stress dan jadi lebay mampus, sementara temen gue dengan masalah yang lebih berat (menurut gue) justru lebih santai. Karena dia terbiasa untuk tidak menjadi yang terbaik tapi melakukan sesuatu dengan baik.

Magang, membuat gue semakin paham jurang lebar antara kehidupan akademis dengan sosial, yang ironisnya, keduanya seharusnya saling berhubungan. Sekolah harusnya mengajarkan kita bagaimana untuk tau dan mencari tau dan ga berkembang di bidang akademis aja, karena pada kenyataanya setiap orang punya kemampuan yang berbeda.  16 tahun gue sekolah dan saat lulus gue baru sadar, gue sendiri ga tau minat dan bakat gue seperti apa. Ini membuat gue kesulitan dalam memilih pekerjaan udah mana gue kuliah di fakultas yang ga semua orang ngerti. Buat orang umum hidup gue udah berakhir (mungkin). Tapi nonton stand up nya Panji membuat berpikir banyak dan pelan-pelan menata kehidupan gue sendiri. Secara ga langsung dia kayak pengen bilang bahwa dalam memilih sesuatu lo harusnya ga asal milih dan berfikir matang-matang atas keputusan yang akan lo ambil. PAHAMI RESIKONYA DAN BERTANGGUNGJAWABLAH DENGAN KEPUTUSAN ITU. Kita memang ngga diajarkan untuk bertanya dan berfikir matang-matang padahal itu penting buat kehidupan kita sendiri. Saat kita bisa melakukan itu otomatis orang disekitar kita akan terkena dampaknya juga. Dengan itu pelan-pelan kita juga bisa mengubah sudut pandang orang lain.

Panji sendiri membuktikan hal itu, bahwa dengan stand up dia justru bisa menyalurkan ide dan apa yang dia pahami soal manusia Indonesia secara keseluruhan, secara ga langsung. Semacam Galileo yang menggunakan satire saat banyak ilmuwan semasanya yang menolak pemikirannya dalam bidang fisika.  kita memang tertawa keras sampai mengeluarkan air mata tapi kita jadi tau dan belajar banyak hal. Sadar atau ga sadar kita jadi mikir, owh iya ya, bener juga sih, eh itu sih gue banget !! dll. Acara semacam ini gue rasa sebenernya perlu terutama untuk kamu muda yang menjadi generasi penerus dan butuh “pembelajaran” di luar bidang akademis dan Panji melakukannya dengan stand up komedi.  

Tags: me